Jumat, 16 Januari 2026

Tempat Ini Bukan untuk Orang Hidup


Saya diundang oleh seorang teman untuk menghadiri pernikahannya. Dalam ingatan saya, acaranya dimulai jam 11 siang. Tidak ada yang terasa janggal saat itu. Undangan biasa, nada bicara biasa, bahkan ajakan untuk bermalam di rumahnya terdengar ramah—karena lokasi acara berada di kampung.

Saya datang bersama istri dan anak saya yang masih berusia empat tahun. Kampung itu terasa sangat familiar. Suasananya seperti kampung tempat saya tumbuh waktu kecil. Sunyi, tenang, dan seolah terhenti di masa lalu.

Malam itu, istri dan anak saya tidur di satu kamar. Saya ditempatkan di kamar lain bersama seorang pria yang tidak saya kenal. Rambutnya penuh serpihan putih seperti ketombe parah. Setiap kali dia bergerak, saya merasa jijik dan tidak nyaman. Saya ingin bertanya siapa dia—keluarga atau bukan—tapi mulut saya terasa berat. Ada percakapan di antara kami, namun anehnya, saat bangun saya sama sekali tidak mengingat apa yang dibicarakan.

Entah saya tidur atau tidak. Waktu terasa lompat begitu saja.

Tiba-tiba saya sudah bersama istri. Kami diberi tahu untuk bersiap-siap karena satu jam lagi acara pernikahan dimulai, dan lokasinya katanya tidak jauh. Namun saya merasa waktu itu tidak mungkin cukup. Belum selesai bersiap, mobil rombongan berangkat lebih dulu dan meninggalkan saya, istri, dan anak saya.

Anehnya, saya tidak panik. Saya santai saja, karena sebelumnya dikatakan jaraknya dekat.

Setelah siap, kami berdiskusi: naik kendaraan online atau berjalan kaki. Saya membuka peta. 22 menit jalan kaki, 10 menit naik mobil. Saya memilih berjalan kaki.

Kami berjalan sambil bercanda kecil, meskipun sadar kami sudah terlambat. Namun beberapa menit kemudian, perasaan itu berubah. Jalan menyempit. Hanya cukup untuk satu roda motor. Di kiri sungai gelap mengalir pelan. Di kanan rumah-rumah penduduk yang senyap, tanpa cahaya.

Saya kadang di depan, kadang di belakang. Kadang menggendong anak, kadang membiarkannya berjalan. Istri saya mulai gelisah.

“Papi, ini benar jalannya?”

Saya mengangguk, walau di dalam hati saya mulai ragu.

Tanpa saya sadari, waktu berubah. Dari siang hari, mendadak menjadi menjelang magrib. Jam 11 siang yang disebutkan seolah tidak pernah ada. Saya baru sadar perubahan itu ketika suasana sudah gelap dan dingin.

Orang-orang terlihat di beberapa titik, berdiri atau duduk, namun tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang menoleh. Mereka seperti patung hidup.

Saya teringat peringatan seseorang—entah teman saya atau pria sekamar itu—

“Nanti sebelum masuk ke tempat acara, kamu akan melewati kuburan. Acaranya di danau yang ada air terjunnya.”

Saat itu saya tidak takut. Sekarang, setiap kata itu terasa seperti ancaman.

Gerbang kuburan mulai terlihat.

Udara menjadi lembap. Dingin menusuk. Istri dan anak saya diam, tapi ketakutan mereka terasa jelas. Saya gemetar, namun terus berjalan karena merasa sudah terlalu jauh untuk kembali.

Kuburannya bukan tanah terbuka. Jalannya seperti lorong rumah sakit. Keramik putih di tengah, rumput di kiri kanan. Tapi di mana-mana adalah kuburan Kristen, berdempetan, rapat, bahkan menutupi sisi jalan. Salib-salib berdiri pucat dalam gelap.

Hari benar-benar malam.

Saya menyalakan flash HP. Cahaya kecil itu terasa tidak ada gunanya. Kami berjalan melewati belokan demi belokan. Tidak ada yang terjadi, tapi justru itu yang membuat saya semakin takut. Pikiran saya penuh bayangan—takut ada sesuatu yang berjalan di belakang, takut ada yang berdiri diam di samping kuburan.

Langkah saya semakin cepat.

Sampai akhirnya jalan itu berhenti di sebuah gerbang kuil yang terkunci. Besi dingin. Tidak ada jalan lain.

Kami terdiam lama.

Istri saya berbisik sambil gemetar,

“Papi… ini di mana? Jangan sesatkan kami.”

Saya tidak bisa menjawab. Mulut saya kering. Mata saya hanya menatap kiri dan kanan, menunggu sesuatu muncul dari gelap.

Beberapa menit terasa seperti selamanya.

Lalu tiba-tiba, di sebelah kiri muncul jalan kecil yang sebelumnya tidak ada. Jalan itu mengarah kembali ke jalur awal. Dari kejauhan terdengar suara air sungai.

Kami berlari ke arah itu. Saat sampai, perasaan lega membuat mata saya berkaca-kaca. Tubuh saya lemas.

Di jalan utama, beberapa warga terlihat memperhatikan kami dengan wajah bingung. Sejak awal saya takut menyapa mereka. Penampilan mereka keras, seperti preman.

Akhirnya satu orang bertanya,

“Mau ke mana, De?”

Saya menyebutkan tujuan, meski nama kampungnya samar.

Dia mengangguk pelan.

“Oh… salah, De. Ada dua tempat namanya sama. Pantes dari tadi kami bingung. Kamu masuk ke kuburan itu. Tempatnya di seberang sungai.”

Saya bertanya pelan,

“Ada penyebrangan, Bang?”

Dia tersenyum tipis.

“Nggak ada.”

Saya pasrah dan berniat kembali. Tapi istri dan anak saya berjalan menjauh, seolah kecewa, seolah meninggalkan saya sendirian.

Saat itulah saya terbangun.

Jantung saya berdebar keras. Ruangan gelap. Bayangan kuburan itu masih menempel di kepala saya. Hingga sadar sepenuhnya, perasaan ngeri itu belum hilang—seolah tempat pernikahan itu memang bukan tempat untuk manusia hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar