Kamis, 26 November 2020 adalah hari-hari rutinitas menjalani aktivitas seperti bangun tidur, mandi, sarapan, dan bekerja. Bisa dibilang hari ini saya bekerja dengan enjoy. Daily job desk juga bisa selesai semua. So saya pulang kerja seperti biasa di sore hari dengan perasaan tenang.
Pulang kerja saya berniat mau potong rambut. Karna kebetulan ini rambut sudah kaya Uchiha Roy. Tiap kali sampai di tempat kerja dengan rambut poni kibas, saya sering menyapa rekan-rekan kerja "Selamat Anda Kena Prank", sontak teman-teman semua ngakak.
Seperti biasa, barbershop favorit saya adalah "hijau daun". Karna 2 tahun kebelakang ini saya sudah sering potong rambut di sana, dan 80% hasilnya sering sesuai dengan yang diharapkan. Kebiasaan saya sampai di kursi eksekusi, saya langsung tunjukkin foto hairstail Thor Ragnarok (tapi gak pake less di sampingnya, takutnya langsung kena tegor sama boss). Well... jadi itu adalah mode request default saya ke abang barbershopnya.
Selesai potong rambut, dikeramas, dikasih vitamin rambut. Lalu saya melihat ke cermin dengan seksama. Hmm saya merasa benar-benar sudah mirip dengan Thor, dan saya mulai nanyain ke abangnya "Bang, mana mjolnir saya?". Abangnya menjawab "lah, kan udah dihancurin sama Hella Bang". "oo iya juga ya".
Setelah bayar ke kasir 25 rebu. Saya bersiap-siap tancap gass pulang ke rumah jam 6 kurang 10 menit. Saya perkirakan adzan magrib akan berkumandang ketika saya tiba di dekat komplek rumah.
Sembari menikmati perjalanan di hari yang mulai senja. Nampak awan bewarna orange cantik membias ke mata, ditambah pemandangan sungai di arah jalan pulang. Saya mulai bertafakur "bagaimana nanti garis finish hidup saya? Apakah saya akan berhasil? Entahlah"
Biasanya pulang kerja saya terjebak macet ke arah jalan pulang, karna ramenya orang yang selesai kerja yang berbondong-bondong untuk pulang. AlhamdulillAh ketika pulang agak lebih sore karna potong rambut dulu, jalanan tidak terlalu padat.
Sedikit lagi saya akan tiba di komplek rumah. Nampak dari depan mata ada minimarket, saya ingin mampir sebentar mau beli minum. Karna dari tempat saya kerja sampai ke salon gak sempat minum.
Saya mulai memelankan kecepatan, nyalakan sign kanan untuk nyebrang. Ketika sudah mulai ada space, mulailah saya nyebrang. Tiba-tiba "duuuuaaaarrrrrrr" bunyi tabrakan keras dari motor saya. Badan saya terhempas ke arah kanan. Saya mulai menjerit "aaarrrrggghhh"
Tangan saya serasa patah, karna gak bisa digerakan, saya coba gerakan, sakitnya luar biasa. Saya terdiam selama 10 detik mencoba mengembalikan kesadaran. Tidak ada orang yang menolong, malahan motor saya aja yang di tolong. Nasib.
Saya masih menjerit kesakitan mau bangkit, ternyata kaki kanan saya juga sakit. Komplit penderitaan saat itu. Selama 10 detik itu saya sempat menghayal ala ala sinetron untuk flashback.
Dalam benak saya terlintas karakter "Kratos God of War 4" yang di mana dia jatuh dan terhempas dengan keras, dia masih kuat dan tetap elegan menahan rasa sakitnya. Lalu saya teringat kalimat bijak dari Kratos ke anaknya Atreus "Sakit bisa kita tunda, tapi senjata yang rusak tidak bisa dibiarkan". Dalam penggalan kalimat ini, saya memetik kalimat "sakit bisa kita tunda". Oleh karena itulah walaupun terhempas jatuh melawan musuh, ataupun jatuh dari ketinggian, dia tetap elegan dan tetap cool. Nanti pas nyampe rumah baru lepaskan sakitnya.
Oke cukup menghayal flashbacknya. Intinya ketika insiden tabrakan alias saya yang kena tabrak ini mencoba tetap cool.
Saya mulai bangkit dengan gaya cool, dan seolah tidak ada sakit apapun di badan saya. Saya langsung cek motor saya. Cek bodi motor, cek rem, dan lain-lain. Lalu saya cari batang hidung yang nabrak saya, nampak muncul bocah yang terliat pincang seperti saya. Lalu saya bertanya ke bocah tersebut "gimana? Aman? Mau lanjutkan urusannya?". Dia cuma diam dengan mimik muka yang terlihat takut. Saya perhatikan bocah ini umuran kelas 3 smp. Nampaknya dia baru pulang main futsal di dekat komplek saya.
Karna saya yakin kalo dituntut juga gak bakalan bisa tanggung jawab. Jadi saya mengalah saja, gajadi melanjutkan urusannya. Lalu saya suruh dia cek motornya apakah ada yang rusak. Tenyata tidak ada. Lalu saya perbolehkan dia lanjutkan perjalananya. Tiba-tiba tangan saya ditarik bocah tersebut, lalu dicium sembari berkata "Makasih Mang" (padahal dalam hati saya mau teriak kesakitan, tangan kanan saya kan cidera anying, dasar bocah gendeng).
Buset kata saya "Mang..." dikira-kiranya saya amang-amang. Gua bercermin kesepion. Eh iya, mirip amang-amang beneran. Lalu spionnya retak.
Setelah masalah udah kelar, saya masuk ke minimarket dengan baju basah sehabis terhempas ke aspal yang berair. Jejak kaki saya yang berlumpur juga nampak mengotori minimarket. Bodo amat, yang penting saya mau minum. Saya berjalan sudah mulai tertatih, semakin lama rasa sakitnya mulai menguat, namun saya memainset diri sendiri agar nanti sakitnya dilepaskan di rumah aja.
Selesai dari minimarket saya menuju rumah sekitar 3 menit. Lalu mulailah saya menjerit-jerit kesakitan di rumah. Mau nangis, tapi cowok. Nasib.
Saya coba lepaskan baju, masyAllahu Akbar sakitnya. Butuh waktu setengah cuma untuk melepas baju dan celana. Saya menjerit-jerit kesakitan dan bersusah payah melepasnya hanya untuk ngecek luka dan lebam. Gilaaa kali, Normalnya aja saya biasa lepaskan baju gak nyampe 5 detik.
Saya langsung telpon mama untuk minta urut tangan dan kaki yang sakit ini dengan mama (karna kebetulan keluarga saya keturunan tukang urut). 2 kali saya telpon, mama tidak menjawab telpon. Mampus pr kembali bagi saya untuk memasang baju, ditambah menahan rasa sakit ini pergi ke rumah mama. Tapi apa boleh buat, daripada nanti sakitnya tambah parah. Saya memilih tertatih di jalan agar bisa diurut supaya lekas sembuh.
Sampai di rumah mama, saya langsung bilang "Ma, tadi saya ditabrak sama bocah yang lagi ngebut" lalu saya ceritakan duduk ceritanya. Selesai mama mendengarkan ceritanya, mama mulai menyimpulkan dengan logat ala emak-emak banjar "Nee..... Itu kepuhunan karna mau minum aeerr". Udah gih sini mama urut.
Saya berteriak..... Aaaaaaaaarrrrrrrrgggghhh
Tamat.
Ending yang sayang membagongkan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar